Kisah Super

Showing posts with label didekatNya. Show all posts

Betapa kuatnya sebuah doa



Seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.

Pemilik supermarket, mengusir dia keluar. Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus menceritakan tentang keluarganya.

“Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang.” Si Pemilik Toko tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut.

“Anda tidak mempunyai kartu kredit, anda tidak mempunyai garansi,” alasannya.

Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal mendengarkan percakapan tadi.

Dia mendekati keduanya dan berkata, “Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini.”

Karena malu, si pemilik toko akhirnya mengatakan, “Tidak perlu Pak, Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis. Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?”

“Ya, Pak. Ini,” katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.

“Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan kertas tersebut.”

Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Si Ibu menundukkan kepala sebentar, menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut, lalu dengan kepala tetap tertunduk, meletakkannya ke dalam timbangan. Mata si Pemilik Toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah.

Ia menatap pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil berucap kecil, “Aku tidak percaya pada apa yang aku lihat.”

Si Pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh belanjaan tersebut pada sisi timbangan. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga si ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan, hingga hampir tidak muat lagi. Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si Ibu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak.

Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek, “Ya Tuhan, Hanya Engkau yang tahu apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu.”

Si Pemilik Toko terdiam. Si Ibu berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang kepadanya.

Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata menjadi rusak. 

=========================

Dari cerita di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ternyata memang hanya TUHAN yang tahu bobot sebuah doa. KEKUATAN SEBUAH DOA. Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja, stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkanlah sebuah doa. Silahkan…

DOA ADALAH PERINTAH TUHAN KEPADA UMATNYA, YANG DIJAMIN TUHAN SENDIRI AKAN MENGABULKANNYA.


16.5.15 0

Kebesaran Tuhan



Kisah ini dimulai ketika saya sedang memperhatikan anak-anak dari kaca jendela ruang tamu, saya melihat anak-anak tetangga dan keempat anak kami sedang bermain dengan riuh di halaman depan bersama anjing kami yang besar, Rex. Apakah saya berkata bahwa anjing itu besar? Maksud saya anjing itu raksasa. Saya tersenyum ketika anjing peranakan collie/husky kami melemparkan anak bungsu saya yang terkekeh-kekeh ke tanah, menjilati wajahnya seolah-olah itu gula, kemudian mengejar bocah yang lain dengan semangat yang sama.

Rex selalu menyenangkan suasana. Pada musim dingin yang lalu, saya mengikat Rex di kereta salju kami, dan ia tanpa mengeluarkan banyak tenaga menarik kereta yang penuh de­ngan anak-anak menyusuri jalanan bersalju! Ia kuat sekaligus lembut. Kesalahannya hanyalah suka mengejar mobil dan truk.

Beberapa tahun belakangan ini memang agak sulit memelihara hewan. Ada orang di kota kami yang suka meracuni hewan peliharaan. Kami telah kehilangan dua ekor anjing dan seekor kucing, serta entah seberapa banyak rasa sakit hati. air mata, dan pertanyaan setiap kali hal itu terjadi. Sejauh ini sepertinya Rex, yang kini berumur tiga tahun, lolos dari ketiga peristiwa tragis itu.

Keempat anak kami berumur lima sampai sebelas tahun telah jatuh cinta dengan bulunya yang lebat. Saya mendesahkan doa, Tuhan, lindungilah Rex. Kami membutuhkan kehadirannya selama beberapa waktu ini.

Saya menggelengkan kepala dan kembali ke buku akunting untuk pertanian keluarga. Saya tidak dapat percaya bahwa saya telah berdoa untuk seekor anjing, lebih dari segalanya. Yang benar saja, Bob. Tuhan tidak punya waktu mengurusi hal-hal kecil.

Saya percaya kepada Tuhan yang penuh kuasa dan adil, tetapi tampaknya masuk akal juga jika Tuhan sibuk mengurusi hal-hal yang berat seperti perang, kanker, dan sebagainya.

Tiba-tiba pekikan anak-anak kepada Rex menghentikan pikiran saya. Saya melemparkan pandangan ke luar dan melihatnya melayang di belakang truk yang melaju. Jangan lagi, pikir saya, mengeluh sambil berusaha untuk mengejarnya. Lalu sesuatu yang menakutkan terjadi, saya mendengar seruan yang menyakitkan dan melihat peristiwa yang terjadi tanpa daya. Roda belakang truk itu tiba-tiba menabrak Rex. Dengan gerakan menggeser, tubuhnya yang gemuk berputar seperti boneka compang-camping seiring dengan putaran roda, sebelum akhirnya terkapar di bawah truk.

Saya berlari ke luar dan menuruni tangga menuju tempat anak-anak mengelilingi binatang peliharaannya. Napasnya tersengal-sengal dan tidak teratur, kaki belakangnya terkulai dan kaki depannya bergerak-gerak di bebatuan. Hati saya hancur. Akan tetapi, anak-anak saya berlutut mengelilingi Rex. Masing-masing dari mereka menumpangkan satu tangan di atasnya, dan tangan yang lainnya terangkat ke atas. Mereka berdoa dengan lantang untuk anjing kesayangan mereka.

Kemudian istri saya, Pauline, berlari-lari dari belakang menghampiri kami.

“Oh, Bob. Jangan Rex!”

Pandangan matanya menyusuri mata saya untuk mendapatkan berita yang akan meredakan ketakutannya.

“Pauline, aku tidak tahu apa yang dapat kita lakukan. Aku pikir aku akan merelakannya.”

“Oh, Ayah, tidak! Ayah tidak bisa begitu. Kami berdoa, tidakkah Ayah melihat? Tuhan akan menyembuhkannya.”

Russel, anak sulung kami, memandang saya dengan tatapan memohon dari tempat ia berdiri di samping Rex.

Saya ingin mengatakan kepada mereka, “Orang saja bisa meninggal dalam kecelakaan. Kalian tidak bisa mengharapkan Tuhan untuk menyelamatkan seekor anjing.”

Tetapi saya tidak mampu menghentikan doa mereka.

Pauline berbisik kepada saya, “Bob, aku tahu ini jam sibuk lalu lintas, tetapi mari kita bawa dia ke perawatan hewan. Aku tidak ingin anak-anak berpikir engkau mengabaikannya.”

Pauline membawa mobil station wagon kami yang berwarna keemasan, dan saya berusaha sehati-hati mungkin mengangkat Rex. Ia menatap saya dengan tatapan kosong sambil berusaha menarik napas. Saya meletakkannya di belakang. Di situ empat orang anak kami masih dapat menumpangkan tangan di atasnya.

Sepertinya perjalanan panjang itu tidak ada habisnya, dan kekhawatiran saya semakin memuncak. Bagaimana saya dan Pauline akan menjelaskan kematian Rex kepada anak-anak? Ya Tuhan, bantulah kami untuk mengetahui apa yangperlu kami lakukan dan katakan, sehingga kami tidak menghancurkan iman anak-anak kami.

Ketika kami sampai di kantor Dr. Macintosh, ia meletakkan Rex di meja baja tahan karat yang dingin di ruang periksanya. Anak-anak saya berdiri di belakang meja ketika dokter itu menekankan stetoskopnya di sana sini, dan menekan-nekan.

Setelah memeriksa sebentar, Dokter mendongak, “Bob, keadaannya tidak bagus. Saya membutuhkan bantuan Anda untuk mendirikannya dengan hati-hati di atas kaki belakangnya. Jika ia tidak dapat bernapas, berarti diafragmanya patah dan saya tidak bisa berbuat apa-apa.”

Anak-anak bersama-sama menahan napas ketika Dr. Macintosh dan saya mengangkat Rex, tetapi mata anjing itu terbelalak dan rahang bawahnya turun ketika ia tersengal-sengal berusaha menarik napas. Kami segera membaring-kannya lagi. Dokter menggelengkan kepala.

“Saya akan memberinya obat tidur supaya ia dapat mati tanpa rasa sakit.”

Serempak keempat anak kami berkata, “Jangan, Ayah!”

“Jangan boleh!”

“Tuhan akan menyembuhkannya.”

“Tolong, jangan diperbolehkan.”

Pak Dokter menggamit lengan saya dan menuntun saya keluar sehingga pembicaraan kami tidak akan terdengar. Sementara itu Pauline tetap tinggal di dalam dan berbicara dengan anak-anak. Saya tidak iri dengan usahanya untuk menjelaskan keadaan ini kepada anak-anak.

“Bob, saya lihat Anda menghadapi masalah. Kita coba saja begini, Rex biar di sini selama semalam. Kadang-kadang memang ada kuasa yang lebih besar daripada kuasa kita. Jika keadaannya tidak membaik, saya akan merawatnya besok pagi, oke?”

“Sepertinya itu ide yang baik.”

Saya tahu kami hanya me-nunda sesuatu yang tidak dapat dihindari. Malam itu anak-anak dapat dengan mudah diajak tidur. Mereka semua kelelahan, dan mereka masih bersemangat untuk mendoakan sahabat mereka yang sedang tidak ada di rumah. Saya dan Pauline berbaring tanpa dapat memejamkan mata, berusaha keras untuk mencari tahu bagaimana kami dapat menangani situasi ini.

Pagi harinya, Pauline menuangkan kopi dan saya mengaduk krim serta gula ke dalam kopi. Anak-anak masih tidur semua. Kemudian telepon berdering. Saya dan Pauline saling berpandangan tahu sama tahu ketika saya mengangkat telepon.

“Halo?”

“Hai, Bob? Ini Dr. Macintosh.”

“Ya?”

Saya menatap Pauline sambil memberi isyarat dengan anggukan kepala tentang siapa yang menelepon.

“Bob, saya tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya doa anak-anak Anda didengarkan, karena anjing itu sekarang sudah bisa berjalan-jalan. Saya sudah memeriksanya, dan tampaknya ia hanya agak terkilir. Saya tidak mendapati adanya masalah pada tubuhnya. Apakah Anda akan menjemputnya?”

Apa? Saya bersandar pada rak dapur dan berusaha untuk bersuara.

“Uh, ya! Saya.., saya akan memberi tahu anak-anak. Kami akan datang ke sana.”

Saya bingung dan memberi tahu Pauline apa yang dikatakan Dokter tadi. Bahunya melorot ketika ia mengembuskan napas kuat-kuat. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Mari kita bangunkan anak-anak,” kata saya.

“Kita perlu memberi tahu kabar gembira kepada mereka.”

Saya tahu anak-anak saya tidak akan terlalu terkejut. Sepanjang malam saya merasa khawatir bagaimana saya menjelaskan keadaan kepada mereka, tetapi ternyata melalui teladan, mereka mengajarkan kepada saya tentang iman mereka yang sederhana. Saya tahu, saya tidak akan pernah lupa bahwa tidak ada yang terlalu kecil untuk diperhatikan Tuhan bahkan tidak juga seekor binatang peliharaan.

=========================================

Tuhan tidak hanya menyentuh Rex secara ajaib, tetapi Bob juga. Walau pun Bob sudah memercayai Tuhan selama bertahun-tahun, ia hanya mengetahui tentang mukjizat sebatas pendengarannya.

Dengan melihat sendiri apa yang telah dikerjakan Tuhan kepada anjing kami dan keluarga saya, iman saya menjadi diperbarui. Hal itu menimbulkan keberanian yang belum pernah ada dalam diri saya. Kini saya ingin orang lain mengetahui bahwa Tuhan sungguh nyata dan betapa Dia benar-benar memelihara kita. Bahkan di dalam hal-hal kecil sekali pun.



15.5.15 0

Kisah pemuda dan seribu lonceng



Alkisah ada sebuah kuil yang dibangun di suatu pulau, tiga kilometer jauhnya dari pantai. Dalam kuil itu terdapat seribu lonceng. Lonceng-lonceng yang besar, lonceng-lonceng yang kecil, semuanya dibuat oleh pengrajin-pengrajin terbaik di dunia. Setiap kali angin bertiup atau taufan menderu, semua lonceng kuil itu serentak berbunyi dan secara terpadu membangun sebuah harmoni. Hati setiap orang yang mendengarkannya akan terpesona.
Tetapi selama berabad-abad, pulau itu tenggelam di dalam laut. Demikian juga kuil bersama dengan lonceng-loncengNya.

Menurut cerita turun temurun, lonceng-lonceng itu masih terus berbunyi, tanpa henti dan dapat didengar oleh setiap orang yang mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Tergerak oleh cerita ini, seorang pemuda menempuh perjalanan sejauh beribu-ribu kilometer. Tekadnya telah bulat untuk mendengarkan bunyi lonceng-lonceng itu. Berhari-hari ia duduk di pantai, berhadapan dengan tempat di mana kuil itu pernah berdiri dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Tetapi yang didengarnya hanyalah suara gelombang laut yang memecah di tepi pantai.

Ia berusaha mati-matian untuk menyisihkan suara gelombang itu supaya dapat mendengar bunyi lonceng. Namun sia-sia. Suara laut rupanya memenuhi alam raya. Ia bertahan sampai berminggu-minggu.

Ketika semangatnya mengendor, ia mendengarkan orang tua-tua di kampung. Dengan terharu, mereka menceriterakan kisah seribu lonceng dan kisah tentang mereka yang telah mendengarnya. Dengan demikian ia semakin yakin bahwa kisah itu memang benar.

Dan semangatnya berkobar lagi, apabila mendengar kata-kata mereka… tetapi kemudian ia kecewa lagi, kalau usahanya selama berminggu-minggu ternyata tidak menghasilkan apa-apa.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri usahanya. Barangkali ia tidak ditakdirkan menjadi salah seorang yang beruntung dapat mendengar bunyi lonceng-lonceng kuil itu. Mungkin juga legenda itu hanya omong kosong saja. Lebih baik pulang saja dan mengakui kegagalan, demikian pikirnya.

Pada hari terakhir, ia duduk di pantai pada tempat yang paling disayanginya. Ia berpamitan kepada laut, angin serta pohon-pohon kelapa. Ia berbaring di atas pasir, memandang langit, mendengarkan suara langit, mendengarkan suara laut.

Pada hari itu, ia tidak berusaha menutup telinganya terhadap suara laut, melainkan menyerahkan dirinya sendiri kepadanya. Dan ia pun menemukan suara yang lembut dan menyegarkan di dalam gelora gelombang laut. Segera ia begitu tenggelam dalam suara itu, sehingga ia hampir tidak menyadari dirinya lagi. Begitu dalam keheningan yang ditimbulkan suara gelombang dalam hatinya.

Di dasar keheningan itu, ia mendengarnya! Dentang bunyi satu lonceng, disambut oleh yang lain, oleh yang lain lagi dan oleh yang lain lagi….dan akhirnya seribu lonceng dari kuil itu berdentangan dengan satu melodi yang agung berpadu.

Dalam hatinya meluap rasa kagum dan gembira.

======================================

Jika engkau ingin mendengar lonceng-lonceng kuil, dengarkanlah suara laut.

Jika engkau ingin melihat Tuhan, pandanglah ciptaan-NYA dengan penuh perhatian.

Jangan menolaknya, jangan memikirkannya. PANDANGLAH saja.



14.5.15 0

Coba kamu renungkan



Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”

Ya Tuhan beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”

Ya Tuhan beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri.”

Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku.”

Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”

Ya Tuhan bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Tuhan berkata… “Ahhhh, akhirnya kau mengerti !”

====================================

Renungkan:

Kadangkala kita berpikir bahwa Tuhan tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi – siang – malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan – bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya — tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhan terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Tuhan) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Tuhan, segala yang kita minta Tuhan tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Tuhan mengabulkannya. Karena Tuhan tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dan terus berdoa.






7.5.15 0

Inilah rahasia kebahagiaan




Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.

Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.

Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut “bodoh”? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.

Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan TUHAN yang satu.

Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.

Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.

Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.

Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri “Aku bebas dalam diriku”.

Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.

Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?

Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalam an hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.

Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara! yang tidak prinsipiil.

Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya.

Rasakan apa yang dikatakannya.




27.4.15 0

Arti sebuah keharmonisan



Alkisah diceritkan ada seorang kakek yang tinggal di desa terpencil, ia memiliki seorang anak yang telah pindah ke kota dan menetap disana. Belum pernah sekalipun si kakek mengunjungi kota, tempat anaknya tinggal. Pada akhir tahun, sang anak mengundang ayahnya yang telah tua itu untuk berkunjung ke rumahnya. Anaknya berpikir tentu sangat menyenangkan apabila dapat merayakan tahun baru bersama ayahnya itu.

Kakek merasa gembira setibanya di kota tempat tinggal anaknya, disana banyak hal baru yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya, berbagai pertunjukan menarik dan bangunan-bangunan megah terdapat di kota. Suatu hari sang kakek berjalan – jalan sendirian ke luar rumah, tiba-tiba ia mendengar bunyi yang amat tidak menyenangkan, amat sumbang menurutnya. Ia pun mencari sumber bunyi tersebut, ternyata suara itu berasal dari seorang anak yang sedang belajar memainkan alat musik biola. Kakek pun berpikir bahwa itu alat musik terburuk yang pernah ada, “Aku tidak mau lagi mendengar alat musik itu”, gerutunya.

Beberapa hari kemudian ia berjalan-jalan bersama anaknya. Mereka pergi untuk menikmati Festival Tahun Baru di pusat kota. Datanglah seorang artis dengan biolanya untuk menampilkan pertunjukan. Anaknya mengajak ia menonton, kakek pun menjadi tidak senang melihat hal tersebut. Namun ketika artis itu menggesek biolanya, nada-nada lembut dan indahlah yang terdengar. Kakek pun menjadi heran. Ia pun berpikir lagi, “oh rupanya aku telah salah menilai, bukan biolanya yang buruk, melainkan cara memainkannyalah yang menentukan.” Kakek pun memejamkan matanya menikmati alunan biola tersebut. Pertunjukan pun berakhir, tak lama terdengar suara sangat mengagumkan. Ia pun membuka matanya, tampaklah sekelompok pemain musik dengan alat musiknya masing-masing. Ada biola, gitar, piano dan lainnya yang dimainkan dengan ahlinya sehingga mengalun dengan sangat syahdu dan harmonis. “Oh, inilah suara terindah yang pernah saya dengar”, ucap sang kakek.

===============================

Apakah anda pernah memiliki pengalaman seperti si kakek?
Sama seperti halnya Agama yang terdapat di tanah air kita tercinta ini. Sesungguhnya semuanya adalah baik sekali. Akhirilah kebencian, dan tanpa memandang perbedaan marilah kita semua bergandengan tangan, saling membantu dalam keharmonisan.



Sumber: dari berbagai sumber.

26.4.15 0

Percakapan antara lilin dan bintang



Alkisah pada suatu hari terjadi percakapan antara sebuah bintang dan sebatang lilin. Lilin itu berkata, "Bintang, mengapa aku hanya ada untuk diletakkan di suatu ruangan sempit sampai batangku habis terbakar dan mati? Jika beruntung saya akan berada di ruangan pesta atau restoran mewah, tapi jika tidak beruntung aku hanya diletakkan di kamar kecil. Sedangkan engkau, cahayamu bisa menyinari langit malam yang luas." Sambil tersenyum sang bintang pun menjawab, "Aku memang bersinar di langit yang luas, namun sinarku hanya akan tampak di malam hari, sedangkan engkau dapat bersinar kapan pun diperlukan,"

Seperti lilin, Kita seringkali mengeluhkan kondisi yang kita alami. Sebagai karyawan, kadang kita merasa tidak seberuntung rekan kerja yang lain. Kita merasa bahwa beban perkejaan lebih menumpuk, atau mendapat ruangan yang tidak senyaman mereka, kemudian kita membandingkan diri dan berkata, " Andai saja aku bisa memilih... "

Jangan pernah mengeluh, Tuhan mau kita saling memperlengkapi satu dengan yang lain. Dan semua yang kita terima saat ini, walaupun tidak sesuai dengan harapan kita, itu semua ada dalam Rencana-Nya. Dia tahu apa yang terbaik buat kita, dan Tuhan pasti mengingat apa yang sudah kita perbuat.



Sumber: dari berbagai sumber.

25.4.15 0

Surat dari Tuhan untuk Anda



Tanggal: Hari ini
Kepada: Kamu/Anda
Dari: Boss
Perihal: Dirimu
Reff: Hidupmu


Saya, Tuhanmu, Hari ini Saya akan menangani semua masalah anda. Harap diingat bahwa Saya tidak butuh bantuan anda.

Jika kehidupan yang anda jalani saat ini membawa anda pada situasi yang tidak dapat anda tangani maka janganlah coba-coba untuk mengatasinya. Mohon letakkan permasalahan anda tersebut pada kotak ADT (Akan Diselesaikan Tuhan). Semuanya akan diselesaikan, tapi dalam ukuran waktu Saya, bukan anda.

Setelah masalah diletakkan dalam kotak, jangan pernah anda kembali memperhatikannya, kembali menengoknya dan mengkhawatirkannya kembali. Sebaiknya anda fokus pada hal-hal lain indah yang sudah dan akan hadir dalam hidup anda.

Jika anda mengalami hal-hal buruk dalam pekerjaan, pikirkan orang lain yang tidak memiliki pekerjaan selama bertahun-tahun.

Jika hubungan cinta anda atau kondisi keluarga anda semakin memburuk, pikirkan orang lain yang tidak pernah merasakan rasanya mencintai dan dicintai.

Jika anda sedih karena tidak bisa menikmati libur akhir pekan, pikirkanlah seorang janda miskin yang harus bekerja hampir seharian dan seminggu penuh untuk memberi makan anak-anaknya.

Jika tiba-tiba mobil/kendaraan anda rusak di tengah jalan yang sepi dan jauh dari pertolongan, pikirkan orang lain yang tidak memiliki kaki atau lumpuh yang tidak dapat berjalan normal.

Jika anda tiba-tiba melihat rambut anda sudah mulai memutih beruban, pikirkanlah pasien kanker yang rambutnya rontok karena harus menjalani kemoterapi.

Jika anda bingung memikirkan dan merenung tentang hidup dan menanyakan maksud Saya terhadap hidupmu, maka bersyukurlah karena masih banyak orang yang tidak memiliki kesempatan untuk berpikir.

Jika anda menganggap diri anda telah menjadi korban dari ketidaktahuan orang lain, ketidakpedulian orang lain atau ketidaktoleransian orang lain atau yang lebih buruk lagi, mungkin anda juga termasuk salah satu dari mereka yang intoleran dan tidak peduli.

Jika anda memutuskan untuk meneruskan surat ini kepada orang lain, maka anda mungkin telah menyentuh hidup mereka dengan cara yang tidak pernah anda tahu!


Terima kasih.

Tuhan 



11.2.15 0

Ada makna dibalik gubuk yang terbakar



Ada sebuah kisah, sebuah kapal yang terapung apung dan terdampar di laut, beberapa diantara mereka ada yang bisa renang dan tidak, naas hanya beberapa orang saja yang pandai berenang dan akhirnya bisa menepi ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni

Dengan sabar dia menunggu kalau-kalau ada kapal yang mampir. Selain cuaca panas, di pulau itu juga sering turun hujan lebat. Maka, dia membuat gubuk tempat bernaung dari terik panas matahari dan curah hujan. Dia bertahan hidup dengan mencari buah-buahan, menangkap ikan, dan rajin berdoa kepada Tuhan, semoga segera datang pertolongan. Namun belum juga ada tanda-tanda datang pertolongan.

Suatu hari setelah seharian mencari kayu dan buah-buahan, dia menangis pilu melihat gubuknya terbakar. ”Ya Tuhan, apa salah dan dosaku. Tega nian Engkau melakukan ini padaku. Satu-satunya milikku hanyalah gubuk ini untuk bertahan hidup. Tapi sekarang terbakar.”Besok paginya dia kaget campur gembira ketika melihat ada kapal mendekat ke pulau itu yang datang menawarkan pertolongan.

Dia pun bertanya, ”Dari mana Saudara tahu bahwa saya sudah lama terdampar di pulau ini dan siang-malam berdoa kepada Tuhan menunggu pertolongan?”
Penolong itu pun menjawab, ”Aku melihat asap api membubung dari arah pulau ini. Aku yakin pasti ada seseorang yang memerlukan pertolongan, maka aku datang ke sini dan ternyata dugaanku benar. Ayo segera naik kapal, kita kembali ke daratan.”

========================================================

Ketika terkena musibah, jangan berhenti berusaha dan berdoa. Berusaha dengan segenap kekuatan nalar dan tenaga, berdoa kepada Tuhan dengan ketulusan hati sedalam dalamnya. Sehebat dan sepintar apa pun seseorang tak ada jaminan tercapai apa yang didambakannya dalam hidup.

Jika tidak disertai kepasrahan kepada Tuhan, ketika terjadi kegagalan akan semakin frustrasi dan kehilangan keseimbangan hidup. Bahkan ada yang bunuh diri.

Sebaliknya, sekalipun rajin berdoa jika tidak disertai usaha secara rasional dan sungguh-sungguh, tak akan terjadi keajaiban. Misalkan Anda masuk ruang ATM ingin mengambil uang, jika nomor PIN salah, uang tak akan keluar sekalipun berjam-jam Anda berdoa dan bersembahyang di ruang ATM.

Pesan moral kedua, jawaban Tuhan dari doa seseorang tidak seketika. Bahkan tidak jarang dalam bentuk lain, di luar apa yang diminta. Dalam hal ini, Tuhan mengganti dengan sesuatu yang lebih tepat bagi hamba-Nya karena Tuhan Mahatahu apa yang terbaik baginya.

Makanya ketika berdoa, mesti yakin bahwa doanya didengar dan dikabulkan, tetapi hindari sikap mendikte Tuhan ketika berdoa. Berdoalah selalu dimulai dengan pujian dan penyampaian rasa syukur atas anugerah Tuhan yang melimpah tak terhitung.

Kedua, menyampaikan permohonan.

Ketiga, ditutup dengan sikap rendah hati bahwa Tuhan Mahasuci dari apa yang manusia pikirkan dan sungguh segala pujian hanya milik Tuhan. Dengan urutan ini, kita diajari berdoa dengan sopan dan sungguh-sungguh, tetapi ujungnya keputusan akhir kita kembalikan kepada Tuhan yang mahatahu, mahasuci, dan maha terpuji.

Artinya, kita mesti rida dengan apa pun keputusan Tuhan yang akan diberikan kepada kita. Bahwa apa yang terjadi, itulah yang terbaik setelah kita berusaha secara optimal, lahir dan batin. Terkadang kita sering membenci sesuatu, padahal di balik itu justru tersimpan kebaikan.

Sebaliknya, kita sering terpikat dan kagum akan sesuatu, padahal apa yang kita dambakan itu mencelakakan.

Makanya orang tua selalu memberi nasihat, janganlah membenci atau mencintai sesuatu secara berlebihan karena bisa jadi suatu saat apa yang kamu cintai atau benci akan berbalik posisinya. Banyak kisah hidup yang membenarkan peringatan di atas. Misalnya saja, ada orang yang kesal karena terlambat naik pesawat gara-gara satu dan lain hal yang tidak terduga. Beberapa jam kemudian baru tersadar dan dibuat kaget, merenung, ternyata pesawat yang mestinya dia naiki mengalami kecelakaan.

Cerita serupa bisa diperbanyak karena dalam masyarakat banyak terjadi hal yang awalnya bertolak belakang dengan logika sehat dan keinginan, tetapi setelah selang beberapa waktu baru terbuka tabir kehendak dan kasih Tuhan di balik suatu musibah.

Salah satu cara untuk bermohon kepada Tuhan agar terhindar dari musibah yang tidak terduga adalah dengan memperbanyak bersedekah, sekecil apa pun yang dilakukan secara rutin.

Jangan lewatkan tiada hari tanpa menolong dan menggembirakan orang lain, khususnya mereka yang dalam kesulitan. Kalaupun tidak bisa harian, minimal dilakukan setiap minggu secara sadar, dilakukan dengan tulus. Beberapa orang pernah mengalami kejadian-kejadian yang membuatnya surprised seperti kisah singkat di atas tentang gubuk yang terbakar. Berulang kali terhindar dari kecelakaan, yang menurut nalar sulit dipahami.

Dia yakin, itu pasti semata pertolongan Tuhan karena dia secara rutin senang menolong hamba Tuhan yang dalam kesulitan. Tuhan akan senantiasa menolong hamba-Nya selama dia senang menolong sesamanya.



12.1.15 0

Kisah haru: Tersenyumlah dengan hatimu



Kisah ini dimulai ketika saya berkuliah di Jerman. Saya adalah seorang ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya di sebuah Universitas di Jerman. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan kepada para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa dimintanya untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.

Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus.

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. 

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya.

Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu. Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya.

Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba-tiba saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu).

Tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan. Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya.

Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.” Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya.”

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak.

Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-anakku! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.” Saya hanya bisa berucap “terima kasih” sambil tersenyum.

Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnet’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke Universitas, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya.

Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya .

“Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, dosenku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. 

Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.” 

=======================================

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!


6.1.15 0

Satu tanganmu ada di surga



Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Dewi... 4 tahun usianya. Hari itu diantar oleh ibundanya masuk sekolah Taman Kanak-kanak. Betapa bahagia hati Dewi, dengan langkah pasti dan berseragam lengkap, terbayang dibenaknya dia akan banyak teman, bisa bermain, saling berbagi, dan bergembira di lingkungan barunya. Hati sang Bunda pun juga bahagia mengantar putri satu-satunya tercinta, ke dunia baru sang putri untuk meraih masa depan.

Keduanya bergandeng tangan melangkah pintu gerbang sekolah dan disambut para guru TK dengan sapaan ramah. Sang ibu memperkenalkan putrinya kepada seluruh guru-guru di sekolah tersebut dengan penuh kasih mereka menyambut Dewi sebagai murid spesial-nya. Murid spesial, karena Dewi adalah satu-satunya murid yang cacat. Sejak lahir Dewi hanya bertangan satu, tangan kanannya cacat, dan hanya tumbuh kecil bagai seonggok daging.

Dewi-pun dibimbing masuk ke kelas bersama teman-temannya yang lain sementara puluhan mata memandang dengan heran, sinis dan cibiran. Teman-teman kecilnya dengan polos menertawakan dirinya karena berbeda dengan yang lain. Sungguh rasanya Dewi ingin menahan tangis dan sakit hatinya ditertawakan teman-temannya. 

Tidak kuasa membendung rasa malu dan air matanya, Dewi-pun berlari keluar ruangan dan menemui Bundanya, "....Bunda kita pulang saja.... Dewi tidak mau sekolah!!!..." 

Sungguh kaget sang Bunda mendengar ucapan Dewi. Beberapa saat yang lalu putri tercintanya begitu bahagia, tapi sekejap telah berubah bagai awan mendung hitam. Sang Bunda pun segera membimbing Dewi pulang ke rumah. Sesampai di rumah Bunda dan Dewi terduduk dalam diam. Tidak tahu harus bagaimana memulai kalimat, Sang bunda pun kebingungan harus bagaimana membujuk sang bidadarinya untuk ceria dan bersemangat sekolah kembali.

Dalam kesunyian, bidadari kecil itu dalam tangisnya mulai memecah keheningan, "Bunda, mengapa Dewi hanya punya tangan satu? Sementara teman-teman Dewi yang lain punya dua tangan? Mengapa Tuhan nggak adil Bunda??? Pedih sekali sang Bunda mendengar pertanyaan malaikat kecilnya itu. Sesak nafas sang Bunda, ingin dia menangis di depan putri satu-satunya itu. 

Sambil menata hati dan perasaannya sang bunda mendekat pada Dewi dan ilham terbit di benaknya. Dipeluknya dan dihapus air mata bidadari kecilnya seraya berbisik, "Sayangku, Tuhan Maha Adil. Tuhan teramat sayang sama Dewi. Sungguh Tuhan amat mencintaimu Nak. SEBENARNYA-LAH TUHAN MENYIMPAN SATU TANGANMU DI SURGA. Dia menjaga tanganmu disana dengan keindahanNya. Menjaga tanganmu dari dosa dan maksiat. Suatu saat kita kembali kepada-Nya pasti akan dikembalikan pada tubuhmu sayang. Putriku, tanganmu akan menyambut dirimu dengan bahagia jika dirimu selalu berbuat baik di dunia dan mematuhi perintah Tuhan......"

Hening sesaat, di wajah bidadari kecil itu pun mulai tersungging senyuman dan berkata, "Benarkah itu Bunda? Berarti Dewi tetap punya dua tangan ya?" 

Jawab sang bunda, "Iya sayang, kamu tetap punya dua tangan dan kamu harus sabar menjemput tanganmu di sorga".

Mendung di wajah bidadari kecil itupun lenyap dan berganti mentari ceria kembali..... 



5.1.15 0

Puisi penuh makna persembahan WS Rendra



Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan
padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta
kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya
yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama
saja"

(WS Rendra) 


4.1.15 0
Slide out post Recommended